Terima Kasih Allah, Surabaya telah mendewasakanku (A Tribute to Surabaya)

Bismillahirrohmaanirrohim..

Assalamu’alaikum, semoga rahmat Allah masih menaungi kita hingga kita tak berjejak di atas bumi ini. Amiin. Dua hari sudah aku angkat kaki dari kota itu, kota yang kini kurindukan teramat dalam, kota yang telah menggoreskan jejak dalam kehidupanku, kota yang meninggalkan amat banyak pembelajaran hidup, kota yang telah mendewasakanku, SURABAYA. Ya, sudah dua hari ini aku kembali ke kampung halamanku a.k.a rumah orang tuaku, sebuah kota yang tidak besar, Mojokerto. Tetapi dua hari ini juga aku masih juga merasa haru telah meninggalkan kota kenangan yang sekaligus menjadi saksi kelahiranku, Surabaya. Padahal dulu ketika masih indekost disana, setiap pulang ke Mojokerto aku selalu mengeluhkan betapa panas dan sumpeknya kota Surabaya itu. Selalu lebih bangga dengan kedamaian kotaku dibesarkan, Mojokerto. Walaupun jarak antara Surabaya-Mojokerto tidak lebih dari 50 km saja, tetapi suasana keduanya sangat berbeda. Baik dalam hal cuaca, hiruk-pikuk jantung kota, maupun kondisi pemukimannya. Yang aku tahu, saat aku masih bermukim di Surabaya karena harus melanjutkan jenjang pendidikan tinggi, aku merasa sangat lebih nyaman dan betah tinggal di kotaku sendiri, Mojokerto. Tetapi sekarang aku baru menyadari bahwa anggapanku salah, Subhanallah Allah telah menunjukkannya pada detik-detik sebelum kepulanganku ke Mojokerto malam itu. Tepatnya hari senin lalu, karena selasa pagi aku telah berencana untuk mangkat dari Surabaya, aku beranjak ke tempat tidur lebih awal, pukul 8.30 malam. Entah kenapa aku belum kunjung bisa tidur, dengan daya upaya memejamkan mata, sambil bolak-balik mencari posisi paling nyaman sekalipun tetap pikiranku masih tak mau ditidurkan. Padahal sudah beberapa jam lalu, aku komat-kamit membaca doa tidur dan ayat kursi tetap tidak berhasil, hingga beberapa kali aku longok jam di HP ku. Saat tak bisa tidur itulah, setiap memori akan kehidupanku di Surabaya seakan-akan diputarkan di otakku oleh Allah. Kenangan pahit dan manis, orang-orang yang sangat menyayangiku disana, teman-teman seperjuanganku, dan segala bentuk peristiwa yang meninggalkan berkeping hikmah. Tak terasa, air mataku menetes bersamaan dengan setiap kenangan yang melintas di kepalaku akan Surabaya. Yaa Rabb, maafkan aku yang masih kurang bersyukur menikmati perjalanan hidupku selama di Surabaya 4 tahun terakhir ini, padahal sejatinya Kau telah menitipkan begitu banyak pelajaran disana, kesedihan dan kebahagiaan yang silih berganti pelan-pelan mendewasakanku, membuat seorang Aghita lebih bijak mengarungi hidup ini.

Kilasan-kilasan rekaman perjalananku di Surabaya, diputar ulang di hadapanku. Teringat saat malam sebelum pergi meninggalkan kos tercinta, GM 16 Boarding House. Saat aku dengan agak terburu berpamitan kepada Bu Ndari (salah satu ibu kos), meminta diri sekaligus meminta maaf atas segala tindak tandukku yang kurang menyenangkan. Awalnya aku pikir sederhana saja, berpamitan, berterima kasih, meminta maaf, sudah. Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu, setelah menjabat tangan beliau entah kenapa beliau mengelus-elus pundakku berkali-kali dan aku melihat matanya berkaca-kaca menatapku. Jangan-jangan ibu ini menangis, pikirku dalam hati. Benar saja, sontak saja aku berkata “Ibu jangan nangis..”, sambil memeluknya. Dan pelukan itu, bukan justru membuat beliau diam tapi malah membuatnya makin terisak sambil berbisik sesuatu yang membuatku jadi ikut menangis. “Sudah ibuk ya?nanti saya ikut nangis..” (padahal jelas aku sudah keduluan nangis). Beberapa saat aku lepas pelukanku, sekali lagi berpamitan dan berterima kasih. Subhanallah, aku benar-benar merasa seperti anak yang akan meninggalkan ibunya. Bu Ndari memang sudah seperti bundaku sendiri selama di Surabaya walaupun kami jarang bertatap muka karena beliau tinggal berbeda gang dengan rumah kosku.

Tak sampai disitu, rekaman kejadian di GM 16 Boarding House yang telah membuatku sangat bersyukur telah bermukim disana selama di Surabaya. Teruntuk mereka:

  • Kamar #1, Mariza yang membuatku belajar arti kebersihan karena yang aku tahu dia adalah salah satu teman kosku yang paling rajin bersih-bersih di lantai 1 (GM 16 Boarding House ada 2 lantai).
  • Kamar #2 Dysti yang ramah, selalu menyapaku di kampus setiap ketemu dari kantin, depan hima, sampai plasa SI.
  • Kamar #3 Kiki yang cantik, yang telah mendahului kami dalam menyempurnakan separuh agama. Ya, temanku satu ini telah menikah 29 Juni lalu, barakallah ya ki untuk keluargamu..maaf tak bisa menyempatkan datang ke Madura karena deadline skripsi.
  • Kamar #4 Febri yang imut-imut. Walaupun awalnya aku merasa kurang nyaman dengan wajah dinginnya, tapi setelah kenal dekat Fe jauh lebih ramah dari yang aku kira. Terima kasih atas beberapa advice dan cerita pengalaman sidang akhirnya.
  • Kamar #5 Ocha yang manis, entah kenapa setiap kali melihat kamar teman-teman dari jurusan Despro aku selalu kagum dengan interiornya. Ocha ini salah satunya, dengan kamar yang tak begitu luas itu, aku benar-benar takjub dengan penataan interiornya hingga barang yang banyak pun tidak membuat kamar terkesan sempit. Bagaimana tidak, sebuah akuarium pun masuk di dalamnya, tetap aku lihat kamarnya nyaman sekali. Salut untukmu Ocha =)
  • Kamar #6 Candra yang tomboy, anak yang sangat spesial buatku. Tomboy, sangat aktif, humoris, dan kocak. Yang buat aku terheran-heran dan tidak menyangka ketika dia menangis saat menonton film 3 idiots. Wow, akhirnya sisi femininmu keluar juga, Can.
  • Kamar #7 Mbak Rifda, mami yang bijak. Mbak yang paling tua di kos, sangat menyenangkan bisa berbagi cerita dengannya. Entah kenapa selalu nyambung berbicara apa saja dengan mbak satu ini, seseorang yang punya bakat terpendam sama denganku, konsultan kejiwaan alias psikiater amatiran. Ya, tempat tumpahan curahan-curahan hati teman. It’ s always fun to be like us, Mbak Rif..Their uniquely stories can be a way to be more wise =)
  • Kamar # 8 Immash, yang alim. Adek satu ini, selalu aktif dalam kegiatan dakwah kampus. Salah satu penulis juga, saya sangat salut dengan tulisanmu sayang. Terus berkarya, jangan lupa tetangga yaah..;)
  • Kamar # 9 Tiara, yang pintar. Mutiara, begitu Lusy menyebutnya. Perumpamaan yang indah, seindah nama dan orangnya. Adek yang sedang merintis skripsi dan ingin lulus 3,5 tahun ini sekarang paling betah di kos-kosan dikala semua penghuni sedang libur.Sukses untuk TA nya sayang..
  • Kamar #11  Elza, yang lucu. Walaupun sekelebat saja aku mengenal gadis ini, aku selalu tertarik dengan senyum khasnya. Wajah-wajah orientalnya selalu membuatku teringat film-film Jepang.hehe
  • Kamar # 12 Kandy, yang ringan tangan. Adek satu ini membuatku belajar akan pentingnya mendahulukan kepentingan orang lain, yang aku tahu dia adalah orang yang sangat ringan tangan membantu orang lain. Aku belajar banyak darimu sayang, adek yang sangat istimewa untukku ever after.
  • Kamar # 13 Nuy, yang selalu up-to-date. Walaupun tergolong anak baru, tetapi aku salut Nuy yang mudah sekali akrab dengan seluruh penghuni kos. Aku salut untukmu yang selalu up-to-date berita terhangat di tanah air Nuy,hehe.
  • Kamar # 14 Rela, yang polos. Anak polos dari Madura yang entah kenapa selalu telat nyambung saat teman-teman membicarakan apapun di ruang keluarga kami aka depan TV. Tapi ternyata belakangan tahu, Rela adalah anak yang cerdas di kampusnya. Salut Bu Asdos!
  • Kamar #15 Winda, yang kalem. Anak satu ini baik sekali, kalem orangnya. Kadang-kadang kasihan melihatnya kerja keras mengatur jadwal piket kamar mandi dengan beberapa sebab.
  • Kamar #16 Lusy, yang keren. Walau terkesan agak tomboy tapi dara satu ini sangat rapi dan rajin. Senang bisa berbagi cerita denganmu soal interior design Lus, semoga benar nanti kamu bersedia men-desain-kan rumahku tentunya dengan harga miring.hihi..Hope u’ll be a great interior designer/interior consultant=)
  • Kamar # 17 Dita, yang gila bola. Khusus untuk adek kos satu ini, saya sangat salut akan wawasanmu tentang dunia pesepakbolaan. Penggila bola sejati hingga ketika aku masuk ke kamarnya, dari sprai, bedcover hingga gantungan kunci semua tentang tim bola jagoannya.
  • Kamar # 18 Mita, yang ceria. Mita, begitu panggilannya. Yang aku tahu, selalu ceria di depan semua orang. Cengengesan khas anak kecil yang selalu dirindukan banyak orang, penghibur diantara kerumunan pembicaraan. Tawa, canda, dan cerita adalah ciri khasnya ketika aku berada bersamanya. Seorang sanguinis sejati yang ingin membuat dunia ceria, walaupun ketika terjatuh dia tak kuasa menahannya sendiri. Seseorang yang belum mau dianggap menjadi wanita dewasa dan lebih nyaman disebut gadis remaja. Semoga setiap likumu menitipkan hikmah, belajarlah mandiri nak.Bunda akan sangat merindukan saat-saat bersamamu (memasak dan hunting buku)..u_u
  • Kamar #19 Dek Novi, yang pendiam. Tak banyak bicara, sejauh aku mengenalnya itulah kesanku. Tetapi ketika sudah akrab, dia cukup menyenangkan dan manis.
  • Kamar #20 Rihay, yang on fire. Bersemangat, berwawasan luas, dan banyak pengalaman. Itu yang aku kenal darinya, meski termasuk orang baru tetapi seperti aku sudah lama mengenalnya. Jujur aku banyak belajar darinya, wawasan dan keahliannya banyak membuatku belajar. Terima kasih sudah mau berbagi ilmu merajut bersamaku Hay =)

Itu adalah secuplik kisahku di GM 16 Boarding House. Kisah lain yang sarat akan hikmah adalah secarik kisahku bersama Laskar Taman Baca, anak-anak Gang Dolly yang kuajar dalam beberapa kesempatan. Tapi sejak disibukkan dengan skripsi hingga hari ini, aku sudah berpamitan pada mereka. Anak-anak itu selalu membuatku rindu, beberapa kali SMS dari mereka tersangkut di HP ku.

Adi : Kak gita kenapa gak ngajar lagi?

Riska : Kak gita gak ngajar?

Yaa Allah, ampuni aku. Adek-adekku sayang, maafkan kakak. Bukan maksud meninggalkan kalian, tapi ijinkanku menata kembali hati ini, bernafas untuk sebuah rencana yang lebih besar. Ijinkanku meminta diri untuk waktu yang belum bisa kupastikan, tapi bagiku kalian adalah berlian yang tersangkut di kubangan yang keruh. Putih diantara hitam, bintang yang bersinar di tengah gelap malam. Jangan pernah berhenti percaya, adek-adekku!

Bait panjang ceritaku di Kota Pahlawan, kuhabiskan bersama ITS tempatku menempa diri. Ya, bersama teman, sahabat, saudara atau bahkan lebih kekal dari itu. Di sebuah Jurusan Sistem Informasi, entah berapa banyak ilmu yang kupetik di tempat ini, berapa ton hikmah yang bermekaran bila semuanya memiliki massa dan berat, tak terhitung-infinite.

KMSI, sebuah ruang tempatku belajar berorganisasi. Walaupun tidak banyak kontribusi yang kuberikan, walaupun ada beberapa prinsip yang tidak kusepakati, KMSI adalah batu lompatanku me-manage kehidupanku sendiri. Ketika diamanahi menjadi bendahara kegiatan, aku jadi belajar bagaimana me-manage keuangan yang ternyata sangat tidak mudah. Aku teringat kelak akan menjadi manager Rumah Tangga dimana keuangan keluarga menjadi tanggung jawabku, sekali lagi syukur alhamdulillah atas kesempatan itu. Special untuk Anonims 06 yang paling setia menemani perjuanganku. Terima kasih teman. =)

KISI, selembar sajadah tempatku menunaikan hak-hak Tuhanku. Sebuah wadah yang menjadi titik balik kehidupan spiritualku. Walaupun awalnya diwarnai kecemasan, tetapi beberapa sahabat telah meyakinkan tekadku untuk mengubah jalan hidupku. Benar adanya, Barangsiapa menghijrahkan niat kepada Allah dan RasulNya, maka dia akan mendapatkan keduanya (Allah dan RasulNya) (HR Bukhari dan Muslim). Proses demi proses yang kujalani, setiap kali aku menambah ilmu akhiratku, semakin aku mengenal Allah. Dan ketika aku mengenalNya jauh lebih dekat, sedekat itulah kurasakan Allah bersamaku. Bersamaan dengan itu aku makin bersyukur dengan setiap metamorfosa kehidupan yang kulalui. Bersyukur bertemu dengan seorang gadis cilikku yang hebat dan cerdas, Fitrah Meilia Purnama. Beberapa kesempatan yang membuat kami begitu dekat, aku selalu kagum dengan kebolehannya dalam bidang design. Dan selalu terhibur dengan cerita dan rajukannya yang khas kekanak-kanakan, tetap aku sangat menyayanginya. Gadis yang sangat pintar, biarpun jarak memisahkan kita, tak selalu pun bertatap muka. Hati-hati ini telah menyatu dalam semaian do’a yang indah, phiet (begitu aku memanggilnya).

Diantara ratusan hikmah yang terselip sepanjang perjalananku di Surabaya ini, sebuah fenomena dimana sungguh kurasakan Allah menepati janjiNya. Tepatnya Ramadhan tahun lalu, yang tak lain adalah Ramadhan terakhirku bersama teman-teman GM 16 Boarding House. Untuk pertama kalinya aku ber-iktikaf di Masjid Agung, masjid paling populer dan paling besar di Surabaya. Seingatku Ramadhan tahun sebelumnya aku belum pernah ber-iktikaf di Masjid selama di Surabaya. Spesial dan berkesan, itulah yang kurasakan pasca iktikaf disana. Tetapi lepas Ramadhan, Lebaran tahun lalu Allah menghadiahkan sesuatu padaku. Allah bagai menjatuhkan sebuah bintang yang benderang tepat di hadapanku. Allah telah mengabulkan salah satu mimpi terbesarku. Beberapa hari aku sempat tidak percaya, mimpi yang selalu berseliweran diantara tumpukan catatanku kini berjarak tak sampai satu gapaian tangan. Kemudian aku meyakinkan diri bahwa Allah ingin aku menjadi saksi firmanNya :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebe­nar­­an.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

Allahu Akbar! Percaya atau tidak, sungguh memang aku pernah meminta mimpi itu padaNya. Dalam canda yang beberapa kali terlontar bersama mbak kosku beberapa tahun silam, sebuah mimpi yang sebenarnya tidak mudah dan mustahil untukku, mimpi yang sengaja kuminta dan kusematkan diantara rangkaian do’aku di Masjid Agung kala itu. Yaa Allah, jagalah apa yang telah Kau karuniakan kepadaku. Berkahilah apa yang telah Kau hadiahkan kepadaku, berkahilah di setiap usahaku menjaga hadiahMu itu. Tapi yang aku pelajari, sungguh mimpi itu bukan hadiah cuma-cuma dari Allah. Sebelum terkabulnya mimpi itu, aku masih ingat usaha yang jatuh bangun aku lakukan untuk memantaskan diri menerimanya. Ya, Allah telah menjawabnya, menjawab usahaku yang meski belum sempurna kurajut. Subhanallah.

Cerita ini kututup dengan mimpiku yang sedikit idealis, anak-anak Taman Baca itu telah membuatku menemukan duniaku. Sedikit atau banyak, aku ingin berkontribusi untuk mereka, anak-anak. Kini aku memimpikan menjadi seorang pengajar untuk mereka, untuk anak-anak dalam masa pembentukan karakter, untuk anak-anak yang masih dalam masa emas pertumbuhannya, untuk anak-anak yang kelak akan melukis prestasi tanah air, untuk anak-anak yang kelak akan membangun peradaban yang lebih baik, untuk anak-anak yang bertauhid dan kehadirannya dirindukan surga. Mereka yang aku harap dapat membuatku belajar jauh lebih bijak, membuatku belajar mendidik dengan hati, dan menari diantara imajinasi dan mimpi mereka yang luas tanpa batas. Aku sangat mencintaimu dengan segala keunikanmu. Semoga Allah memberkahi mimpiku ini.amiin =)

*Terima kasih Allah, Surabaya telah mendewasakanku. Jadikanlah setiap perjalananku disana berkah untukku dan sekitarku. Bila nanti Kau ijinkan, aku akan kembali dengan kontribusi untuk kota kelahiranku ini. Sebagai rasa terima kasihku, ijinkanku kelak menebarkan warna-warni potensi generasi Surabaya yang kucintai ini* Amiin

PS: “Friends come and go in our lives, but a few find places so deep in our heart that we know they will always be with us”

_diantara mekarnya rindu untukmu, Surabayaku_

15 Responses so far »

  1. 1

    /men said,

    subhanallah, terus menulis mbak.. Biar bisa menjadi inspirasi semua kamu kita, termasuk saya..
    ^^
    Semangat…

    • 2

      Aghita Sekarrini Yusinda said,

      makasih kandut sayang..amiin,semoga masih bisa berbagi pengalman dan cerita meski kita terpisah jarak. Aku akan sangat senang mendengar setiap ceritamu,krn aku juga mengikuti blog mu,hehe miss you dear..=)

  2. 3

    Keep Blogging Ag.. Surabaya Jugalah yang mampu membuatku berdiri seperti sekarang ini… ^^

  3. 4

    FJA said,

    Cerita khas putri daerah yang harus mengadu “nasib” di kota😀

    Ow sudah mudik back to Mojokerto ternyata, klo gak kos apa gak kesulitan pas besok mau ngurus2x wisuda sampai transkrip keluar ?

    “…. mimpiku yang sedikit idealis, anak-anak Taman Baca itu telah membuatku menemukan duniaku. ….”

    mau jadi Ibu Guru nih ?

    Setelah lulus waktunya membalas jasa orang tua yang sudah menyekolahkan dari TK hingga Sarjana.
    Apalagi sebagai anak sulung, besar harapan orang tua di pundak Aghita ..🙂

    Sukses…

  4. 5

    ciput said,

    saya terharu…. kyaaaaaaaaa
    *lebay sek reekkk

    kangen wessshh…. gak bisa crita2 lg….

    T_T

    • 6

      Aghita Sekarrini Yusinda said,

      lussyy..kangen juga nih..lusy yang unique and always nice =)

      semoga setelah berdomisili tetap di Surabaya,ketika aku kembali kesana kita masih bisa bersua kembali ya sayang..aku merindukan kos2an kita tercinta.sering2 maen yah lus sm anak2 kos lain,doain lancar semua urusanku biar aku segera balik ke kota itu..muaaach..:*

  5. 7

    Bundsay.. Aku kangend.. T.T

    Kapan kita mengobrol2 lagi ???

    makasi dah jadi ibu kedua di antah berantah ini …
    makasi sudah melindungiku selalu..
    makasi sudah jadi teman perjalanan ini..

    Pokoknya, I loph U dah bund…. T.T

    Kangend masak bareng, curhat dalam segala hal, dari yang konyol sampe yang sedih2.. kangen nonton kartun bareng, puter2 sby bareng, ….

    makasi dah menganggapku sebagai anak, adek, teman dan bahkan keluarga.. senang rasanya menjadi bagian dari hidup bundsay.

    Semoga bundsay bahagia selalu…

    i loph u bunda sayaangggg…

    • 8

      Aghita Sekarrini Yusinda said,

      misay..=)
      semua kata rindu utk setiap kebersamaan kita rasanya tak cukup dijabarkan di sini,mungkin belum usai kata menjabarkan dalam blog ini koneksi inet sudah tak bersahabat lagi..hihi
      yang jelas mita..setiap perjumpaan pasti lah ada saat perpisahan,kapan pun itu.perjumpaan yg kekal hanyalah di akhirat kelak,semoga bund bisa menjadi teman perjalananmu hingga ke jannah Nya.amiin..

      terima kasih jg utk setiap keceriaan itu,yang kerap meredakan kegalauan hati bund..terima kasih utk tawa yang mengeringkan air mata kesedihanku..terima kasih utk setiap cerita kita..

      love u more,dear..:*

  6. 9

    asif said,

    kalo kangen surabaya, ya tinggal main aja … kan gak lebih dari 50 km … gak lebih dua jam perjalanan juga … hehehe ….

  7. 10

    Huda said,

    Wah, nice experience. Somga bisa barokah.
    Dapat salam dari adik2 di Gang Dolly mbk🙂

  8. 11

    tibatiba saja hari ini saya merasa kangen dengan sosokmu…
    tibatiba waktu itu kau menyapaku ketika kau melewati kamarku…
    kemudian kau ejek aku… “lak geje”
    hehehehe….
    next, i will not hear those thing anymore…
    miss you, mbak ghit…

    kyaaaaaaaa……
    jadi melo…
    hehehe

  9. 12

    _imm said,

    mba’…aghhhh….kapan traktiran??? hehehe..

    selamat menempuh fase baru!! rencana Allah sangatlah indah, dan saya percaya itu. punya kesempatan kenal sama anti. masih inget cara kita kenalan?? di tengah MANAGE, saat diriku masih maba.

    “kamu kos di mana?”

    “gang makam 16 mba’ ”

    “lho, aku juga”

    “nama mba’ siapa?”

    “mmm…nanti deh di kos”

    begini gak sih? lali aku…

    gang makam 16 akan jadi salah satu tempat legendaris dari lahirnya orang2 legendaris!! lebay mode:on

    • 13

      Aghita Sekarrini Yusinda said,

      halluuuw immon..huhuhu,kangen dirimu nih…:D
      waw..traktiran apaan yah?hm..ntar deh hbs lebaran insyaAllah saya bertandang ke GM 16 sekalian farewell party..
      …wah,ternyata dirimuw masih ingat ya mon,padahal aku sendiri sudah lupaa..hehe,seingetku dulu km masih kurus waktu kita pertama kenal..hihi :p
      insyaAllah,mbak minta do’a aja ya mon dari km utk setiap mimpi dan cita2ku..dan semoga benar setiap penghuni GM 16 menjadi orang legendaris dan manfaat utk umat di dunia..amiin.
      semoga mimpi dan cita2mu tercapai nak,Amiin..

      nitip anak2 kos ya mon,tolong diingetin sana-sini krn kalian nanti akan jadi senior yg dijadikan teladan olh penghuni baru..
      biar makin ‘muslimah’ penghuninya sehingga barokah segala kegiatan yang ada di dalamnya,Amiin..=)

  10. 14

    restia said,

    aag..Tulisannya panjaaanng, tapi menyentuh sekali..:)
    semoga Allah memberi kelancaran dalam semua urusan2 kita. Amin.🙂

    • 15

      Aghita Sekarrini Yusinda said,

      amiin,..matur nuwun mbak ety=)
      semoga do’any kembali pada mbak..makasih atas apresiasi dan berkenan baca coretan2kuw…;)


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: