A Great Book Review : “And The Star is ME!”

Cover Buku And The Star is ME!

Ketika Allah membelai lembut wajahku melalui desiran angin di waktu penantian berkumandangnya adzan ashar. Aku duduk sendiri di depan benda yang belum lama ini membantuku bergelut dengan pikiranku, menguak memoriku, menciptakan sebuah coretan yang bagiku bermakna. Mengalun lagu “Jangan Menyerah” by De Massive, aku pun tergugah untuk segera dapat membagi sedikit ilmu yang kudapatkan dari sebuah buku. Ya,tidak jauh kaitannya dengan lagu ini, sebuah buku yang membuat kita berpikir ulang mengenai apa yang selama ini kita anggap benar seperti sebuah doktrin akan pemikiran materialis yang belakangan diTuhankan banyak orang dan bisa jadi itu diri kita sendiri?Naudzubillah..

Buku itu berjudul “…and The Star is Me!” sebuah karya indah dari Teh Afifah Afra (semoga beliau berkenan dipanggil teteh :D). aku akan sedikit mengulas apa yang ada di buku keren itu, menilik beberapa pelajaran yang dapat kita ambil darinya, serta beberapa motivasi yang tersirat di dalamnya.

Katakan ada seorang pengusaha sukses bernama Alex, telah melanglang buana di dunia bisnis dalam kurun 3 tahun terakhir dan telah memiliki perusahaan sendiri yang besar atas kerja kerasnya. Dari track record kehidupannya saat kita melihat ke belakang, data dan fakta yang ditemukan adalah bahwa Alex adalah seorang anak yang sejak kecil dikaruniai otak yang cerdas sehingga Alex tidak mengalami kesulitan dalam setiap mata pelajarannya selama di bangku sekolah. Di tingkat lebih tinggi dia mampu masuk ke sebuah universitas yang mendapat peringkat 5 besar terbaik seantaro negeri, di bangku kuliah dia juga seorang anak yang cerdas dan disegani teman-temannya dalam hal akademis, bagaimana tidak indeks prestasi kumulatifnya tidak pernah bergeser turun dari 3.8 dan lulus dengan predikat cumlaude. Begitu pula dengan pendidikan Strata 2 dan Strata 3 nya yang dilaluinya di sebuah universitas di luar negeri. Sukses besar! Mungkin ungkapan itu yang akan muncul dalam benak kita. Ya, tidak salah tetapi coba mari lihat fakta berikutnya.

Udin adalah seorang penjual masakan di sebuah desa. Saat kita melihat latar belakang pendidikannya, Udin adalah seorang murid yang biasa-biasa saja, nilai rapornya selalu pas-pasan sejak dia duduk di bangku SD sampai SMA bahkan Udin tidak naik kelas saat di bangku SMP. Karena keterbatasan biaya, Udin tidak sanggup untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi sehingga terpaksa Udin harus menghidupi dirinya sendiri beserta orang tuanya yang telah lanjut usia. Udin mulai mencoba menekuni hobi terpendamnya yaitu memasak, suatu hari dia membuat aneka macam masakan mulai dari soto ayam hingga spaghetti, dan hasil karyanya tersebut diuji cobakan kepada tetangga kanan kirinya dan hampir seluruh suara mengatakan bahwa masakan Udin memang maknyus bahkan ada yang berpendapat masakannya sudah sekelas hotel berbintang. Bagaimana pendapatmu? Mungkin banyak dari kita akan berpikir, “Jago sih masaknya..tapi,,latar belakang pendidikannya itu lhoo.” Ya, akan masih banyak yang berpendapat bahwa Udin adalah orang bodoh karena latar belakang pendidikannya walaupun fakta mengatakan bahwa Udin mampu menciptakan mahakarya berupa masakan sekelas koki hotel berbintang lima!

Ada lagi kisah Ratih dan Bulan. Bulan adalah seorang mahasiswi sebuah universitas bergengsi di Indonesia dan berhasil masuk ke dalam jurusan yang diminati oleh banyak orang, kedokteran. Akan sangat menyenangkan ketika ada seseorang yang bertanya padanya, “Kamu kuliah dimana?” dan dengan sangat lantang serta percaya diri kita akan menjawab “Kedokteran!” andai kita jadi Bulan. Lain hal nya dengan Ratih yang kuliah di jurusan Tata Busana misalnya. Mungkin kita akan berharap tidak ada orang yang akan bertanya kepada kita dimana kuliah kita atau jurusan apa yang kita ambil. Sama halnya ketika banyak dari kita yang minder karena hanya seorang guru TK, hanya seorang pedangang kue, hanya seorang penjahit, hanya seorang pedangan bakso, dan hanya-hanya lainnya. Padahal bisa jadi seorang pedangan bakso tersebut akan berpenghasilan yang lebih tinggi dibandingkan seorang programmer. Tidak percaya? Berikut saya cuplik tanpa edit dari buku Teh Afra :

Ketika menjadi juru masak bagi sukarelawan tentara AS pada perang korea, seorang Dave Thomas barangkali tidak pernah menduga bahwa beberapa puluh tahun yang akan datang, restoran hamburger yang dirintisnya mulai dari nol, yakni Wendy’s, akan menjadi salah satu restoran terbesar di dunia yang waralabanya bertebaran di kota-kota besar planet Bumi ini, termasuk di Indonesia. Dave Thomas – yang kemudian menyadari bahwa dia memang seorang koki yang handal – memilih bisnis makanan sebagai bidangnya, ia garap serius, dan sukses besar!

Tetapi itulah fakta yang terjadi di negeri kita Indonesia tercinta ini, hampir setiap orang telah mengalami krisis percaya diri atau sebutan andalan Teh Afra adalah minder! Banyak dari kita tidak memahami potensi yang kita miliki yang disebabkan oleh lemahnya kepribadian yang tertancap dalam diri kita. Banyak dari kita yang justru menjadi orang lain yang kita idolakan, sehingga kita menjadi imitasi-nya. Kita melakukan segala cara untuk bisa tampil seperti orang yang kita idolakan tersebut padahal kita tidak tahu bahwa kita sedang menipu diri sendiri. Karena belum tentu potensi kita sama dengan sang idola. Padahal apabila kita menyadari sejatinya dalam masing-masing tubuh kita ini menyimpan sebuah potensi yang menjadi sumber kekuatan bagi diri kita sendiri nantinya. Dan ketika kekuatan itu mampu kita gerakkan optimal, kita akan memancarkan cahaya layaknya bintang di langit yang luas. Ya, sebuah bintang yang memancarkan cahayanya sendiri bukan pantulan dari sumber kekuatan lainnya.

Benarlah sahabatku, bintang itu ada dalam diri kita masing-masing. Tinggal bagaimana untuk menunjukkan cahayanya pada jagat raya ini, karena beribu bintang lain juga sedang berkompetisi dengan kita. Seorang bintang – masih menilik buku Teh Afra – adalah seseorang yang memiliki kepribadian kuat : mengenali diri sendiri dengan baik, dapat menerima dirinya sendiri dengan segenap kelebihan dan kekurangannya, dapat menerima orang lain apa adanya, tidak gampang terpengaruh, tidak oportunis, dan senantiasa memikirkan bagaimana ia bisa bermanfaat bagi orang lain.

Oleh karenanya tak layak bila seorang professor mengatakan bahwa seorang legendaris Christiano Ronaldo itu bodoh hanya karena pendidikannya tidak setinggi professor tersebut. Setiap orang memiliki ke-BINTANG-an nya masing-masing.

Mulai saat ini, janganlah takut teman.. pancarkan kilau cahayamu seterang-terangnya. Gali potensimu sedalam-dalamnya, jangan minder bila potensimu tidak sama seperti kebanyakan orang. Seperti cuplikan di atas, seorang ahli memasak belum tentu lebih rendah dari seorang manajer, yang terpenting adalah ketika cahaya yang kau miliki bermanfaat bagi umat maka saat itulah bintang dalam dirimu berpendar paling indah. Dan sebelum kita berlomba-lomba tuk menjadi bintang terindah jangan lupa mendedikasikannya untuk Allah Sang Pemilik Keindahan sesuai dengan firmannya berikut:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-Dzariyat:56)

Karena dengan meniatkan segala bentuk usaha kita kepada Allah Ta’ala insyaAllah kita tidak hanya mendapatkan sekotak kesuksesan di dunia tetapi Allah juga akan menjanjikan jannah yang indah di akhiratNya kelak.

Wallahu a’lam bishshowab..

_Sebuah goresan pena Tsuraya_

—(16 September 2009)—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: