Book Review, Special for Moms : Bunda Manager Rumah Tangga

Bismillahirrohmanirrohim..

Baiklah,kali ini saya sedikit berbagi ilmu menarik untuk Bunda sekalian. Hmm,untuk temen-temen yang belum menikah juga sah-sah aja koq buat baca. Toh saya juga belum menikah..hehe. Berawal dari jalan-jalan saya di dunia maya, saya menemukan sebuah toko buku online ini. Karena penasaran saya jelajahi saja list buku yang dijual. Dan ternyata saya menemukan Buku dengan judul Bunda Manajer Keluarga. Sebenernya sudah lama banget saya liat iklan buku ini di FB dan waktu lihat iklannya sempat ingin beli tapi nyari di toko buku koq nihil. Ya sudah pupus lah harapan saya. Tapi lagi-lagi, syukur Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan saya untuk nimba ilmu dari buku karya mbak Irawati Istadi yang belakangan tau masih satu almamater dengan saya.Sebenernya saya beli 2 judul buku tentang “bunda”, tetapi untuk buku yang kedua saya simpan dulu review-nya ya. Karena belum sama sekali saya baca. Okay,check this out mom!

Pada dasarnya buku ini adalah buku edukasi untuk para Bunda, tidak hanya untuk Bunda yang bekerja di rumah (ibu rumah tangga) tetapi juga untuk Bunda yang bekerja di luar rumah. Dalam buku ini pertama-tama kita akan diajak untuk mengubah mindset kita selama ini bahwa untuk menjadi Ibu Rumah Tangga tidak melulu mengurus rumah, memasak, mencuci, dll. Karena itu adalah sebagian kegiatan operasional rumah tangga. seorang Bunda mempunyai tanggung jawab lebih dari sekedar melakukan kegiatan tersebut. Mbak Irawati menjelaskan bahwa Ayah mengambil peran sebagai Manajer Utama/Top Manajer di Perusahaan yang disebut Rumah Tangga ini dan Bunda?Tentu saja sebagai Manajer Operasionalnya. Ayah tetap sebagai pembuat kebijakan dan pembuat keputusan paling akhir dari segala permasalahan dan Bunda adalah pelaksana teknis dari segala kebijakan dan strategi yang telah diputuskan oleh Ayah. Hmm..begitulah,Bunda adalah manager dari Rumah Tangga, yang bertanggung jawab mengelola segala tetek bengek rumah tangga, dari urusan terkecil hingga yang paling esensial. Karena rumah tangga ibarat perusahaan, yang didalamnya mempunyai visi, misi, dan tujuan rumah tangga itu didirikan. Selain itu, layaknya sebuah perusahaan..rumah tangga juga perlu memiliki fungsi operasional dan strategis tertentu. Wow, semakin menarik bukan? Dalam buku ini dibahas lengkap divisi-divisi yang harus ada dalam sebuah perusahaan yang bernama Rumah Tangga beserta fungsi dan strateginya. Membaca buku ini memang seperti baca buku manajemen untuk temen-temen yang perna belajar manajemen pasti dapat dengan mudah memahaminya. Buku ini juga dilengkapi tips-tips atau strategi para success mom yang tersebar di seantero negeri. Dan dalam setiap bab selalu diawali dengan cerita yang memudahkan kita untuk membayangkan dan memahami apa yang akan di bahas pada bab tersebut.

Sekarang saya akan berbicara mengenai penampilan dari si buku. Buku ini dikemas dalam bentuk yang sangat menarik dan wanita banget! Yap, dengan sampul warna merah dilengkapi halaman yang full-color membuat mata tak bosan bacanya. Selain itu, untuk hal-hal penting terkait pembahasan font dibuat cerah, ukuran lebih besar dan menarik hati. Untuk kolom ahli dan tips dari success moms diberikan gambar yang ditata dengan apik. Two thumbs up deh mom!Yak, cukup sekian review dari saya, karena saya juga belum rampung membacanya tetapi rasanya hati ini tak sabar saja ingin berbagi dengan bunda. Menurut saya pribadi, buku ini wajib dibaca oleh seluruh wanita di negeri ini. Kenapa? Karena bukankah kita semua akan menjadi Bunda? Menjadi seorang Manajer juga harus paham ilmu manajemen kan? Well, just get the book soon Bunda =)

Judul Buku : Bunda Manajer Rumah Tangga

Pengarang : Irawati Istadi

Penerbit : Pustaka Inti

Harga : IDR 130.000 (asli), beli di Atqiya diskon jadi IDR 105.000

 

Comments (4) »

Al-Aqsha, bertahan!

Bismillahirrohmanirrohim..

 

Sebentar tadi, entah kenapa hatiku seperti teraduk-aduk membaca sebuah berita tentang kabar Palestina dan masjid Al-Aqsha. Perlahan aroma kebencian menyulut di dalam hati. Yaa Allah, memang benar..Mereka (zionis) itu benci sekali terhadap Islam. Aku tau, aku pun tak dapat bergerak untuk membentengi serangan mereka pada masjid tempat kiblat pertama ditetapkan itu. Tapi hatiku benci, aku memendam benci teramat dalam pada mereka. Awalnya aku pikir untuk apa melaknat, menyumpahi tetapi kini deretan berita kekerasan mereka itu rasanya membakar dada sekali. Ya, aku berhak membenci kan Yaa Allah?Membenci siapa saja yang memusuhi agamaMu dan RasulMu.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya. “(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)

Biarlah kebencian ini menjadi saksi solidaritas untuk saudaraku disana (Palestina), maafkan bila hanya do’a sebagai pita hitam kedukaanku untukmu saudaraku. Allahu Akbar, lindungilah Al-Aqsha Yaa Rabb Sang Pemilik Kekuatan..Berikut ini berita yang sempat saya baca tadi, baca juga berita yang terkait disini.

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA – Ikatan Ulama Palestina mengingatkan umat Islam dan bangsa Arab atas bahaya yang sedang mengancam Al-Quds. Kiblat pertama Umat Islam itu hampir roboh menyusul aksi penghancuran, penggusuran dan perluasan permukiman oleh Otoritas Okupasi Israel (IOA). IOA mulai melakukan aksi pengrusakan tersebut terutama di sekitar Masjid Al-Aqsha.

Hal ini diungkapkan Ikatan Ulama Palestina (League of Palestine Scholars/LPS) dalam pernyataan persnya pada Sabtu (11/12). LPS mengatakan bahwa penjajah Zionis secara nyata telah memulai rencananya menghancurkan kiblat pertama ummat Islam dan seluruh bangunan yang berada di sekelilingnya.

Oleh karena itu, LPS menyerukan wajib hukumnya bagi seluruh umat menghentikan aksi Zionis ini. Umat harus bangun dan bangkit dari kelalaianya. LPS menambahkan bahwa Al-Aqsha hampir roboh akibat aksi Israel tersebut. ”Bangsa Arab dan negara-negara Islam harus segera bangkit sebelum segalanya terlambat,” sebut LPS.

Sumber :

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/12/12/151778-ya-allah-alaqsha-mau-roboh

http://www.republika.co.id/berita/republikatv/ummat/10/12/10/151494-astaghfirullah-israel-runtuhkan-fondasi-dasar-masjid-aqsha

Leave a comment »

Perjalanan dan kisah seorang Bunda

Catatan kali ini adalah kisahku bersama seorang Bunda Indah di sebuah perjalanan, saya menyebutnya curhat di atas kereta episode satu. Semoga barokah setiap pembicaraan yang bermanfaat untuk saling mengingatkan kebaikan dan juga..mengingat kebesaran Allah Azza wa Jalla yang telah mempertemukan kami. Happy reading!

 

@Arek Surokerto, November 2010.

Bismillahirrohmaanirrohim..

“Permisi bu..” ucapku seraya meletakkan tas tepat di kabin atas tempat dudukku di dalam kereta.

Seorang ibu yang duduk disebelahku melihatku sambil tersenyum kemudian memulai percakapan.

“Mbaknya tiap hari ya naik kereta ini?” pertanyaan tersebut meluncur dari ibu tersebut setelah aku membenarkan posisi duduk ku.

“Oh tidak bu..saya kebetulan saja hari ini ada perlu di Surabaya” jawabku sambil sesekali menoleh ke sebelah kananku, posisinya duduk.

“Hm.. saya kira tiap hari naik kereta ini.” tambahnya.

“Memangnya kenapa bu?” tanyaku kemudian. Di dalam hati aku menebak-nebak, pasti ibu di sebelahku mau Tanya jadwal kereta ekonomi yang biasa ku naiki ini.

“Nda, saya mau Tanya kalo kereta yang dari Surabaya nanti sore jam berapa ya jadwalnya?” benar saja, ibu ini menanyakan jadwal juga. Pasti si ibu di sampingku ini baru kali pertama naik kereta yang juga kunaiki tersebut.

“Ooh..kalo dari Surabaya nanti sore ada bu, jam setengah lima.” Jawabku kemudian.

“Saya baru tau kalo ada kereta sepagi ini ke Surabaya. Alhamdulillah, akhirnya saya nda perlu kejar-kejaran lagi dengan bis. Biasanya saya naik bis mbak ke Surabaya, dan kalo Senin begini pasti rame sekali. Berdesakan pula di dalam karena nda dapat tempat duduk.” Si ibu yang baru saja saya kenal itu mulai bercerita. Sejurus kemudian saya melihat ada kebaikan dari binar matanya. Tampaknya ibu ini baik dan ramah jadi saya bisa punya teman ngobrol selama perjalanan. Ya, kebetulan hampir selalu saya naik kereta ekonomi ini untuk pergi ke Surabaya. Arek Surokerto, begitulah nama kereta tersebut.

“Oh begitu ya bu. Padahal kereta ini sudah lama lho beroperasi, setahun yang lalu kalo tidak salah. Setiap pulang kampong saya selalu naik ini dulu waktu masih kuliah”. Akhirnya percakapan kami pun mulai mengalir, obrolan yang berlangsung tidak melulu soal kereta lagi hingga akhirnya saya tau nama ibu tersebut. Sebut saja Ibu Indah.

“Saya punya anak yang special banget mbak..” tiba-tiba Bu Indah membuka cakrawala kehidupan keluarganya. Tidak perlu menunggu lama, saya sontak memasang telinga “baik-baik” dan siap mendengar lanjutan cerita anak spesialnya itu.

“Dia masih SD kelas 5, tapi bakatnya luar biasa. Akademis OK, non-akademisnya pun mengagumkan” lanjut Bu Indah kemudian.

“Subhanallah,” desis saya demi mendengar ceritanya.

“Iya mbak, nilai matematikanya di sekolah tidak pernah luput dari angka 100. Dia jago nari, dan pernah ikut pildacil (kompetisi dai cilik yang pernah diadakan salah satu stasiun TV swasta)” Bu Indah menjelaskan detail sesuatu yang membuat anaknya yang belakangan saya tau namanya Fifi, sangat special di matanya pun di mataku sebagai orang lain. Sejurus kemudian pikiranku mengembara, Yaa Allah betapa bahagianya ibu ini dikaruniai anak yang cerdas lagi shalih. Aku yang sejak tadi memendam rasa penasaran pun memberanikan diri bertanya.

“Rahasianya apa bu, anaknya bisa sepintar itu? Saya yakin di balik kehebatan seorang anak ada seorang ibu yang luar biasa juga” sambil melempar senyum ke Bu Indah yang sedari tadi tak berhenti menyunggingkan senyum manisnya. Beliau tertawa sejenak, kemudian terdiam dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aku mencoba menelisik apa yang sedang dipikirnya, mungkin dia sedang mencoba mengingat-ingat kembali hari-hari yang dilalui bersama anaknya. Mengingat perjuangannya sebagai seorang ibu dalam mendidik dan mengasuh anaknya bercucur peluh.

“Yang jelas saya selalu berusaha meluangkan waktu saya untuk anak-anak saya menjelang waktu tidur mereka mbak. Saya biasa membuka ruang seluas-luasnya pada mereka untuk berbagi cerita dengan saya. Selain saya bisa mengawasi kegiatan anak saya selama saya tidak ada, saya juga bisa memasukkan nasihat-nasihat untuk setiap persoalan yang mereka hadapi. Alhamdulillah hal tersebut sangat ampuh membentuk akhlak mereka.” Cerita bu Indah panjang lebar. Aku pun teringat tentang salah satu metode membentuk akhlak anak adalah via “cerita” atau dongeng yang sekarang ini sedang digemborkan oleh para ilmuwan.

Singkat cerita, Bu Indah bukanlah seorang istri dan ibu tanpa pernah karam dalam badai problematika rumah tangga. Dari beberapa cerita yang mengalun sepanjang perjalanan kami, terbesit dalam hatiku rasa kagum yang luar biasa pada ibu dua anak ini. bagaimana tidak, pengkhianatan bahkan kekerasan yang pernah dilakukan oleh suaminya tak sanggup meruntuhkan ketabahan Bu Indah. Beliau hanya tersenyum getir mengingat kejadian itu dan berkata, “Saya ikhlas mbak, walaupun seluruh keluarga saya menganjurkan untuk sebuah perceraian. Tetapi saya lebih memilih kebahagiaan anak-anak”. Subhanallah..

***

Mungkin teman-teman pernah mendengar kisah serupa, kekuatan seorang istri dan ibu dalam menjaga keutuhan rumah tangga? Ya, aku sudah beberapa kali mendengar cerita Bunda lain yang serupa. Dari sekian banyak cerita, aku teringat satu nasihat dari seorang Bunda padaku.

Letak keutuhan rumah tangga dan letak kebaikan akhlak seorang anak adalah di tangan seorang Ibu. Sebejat apapun bapaknya tetapi bila ibunya adalah seorang yang shalihah, insyaAllah anak akan tumbuh menjadi anak yang shalih.

Dan ada pepatah mengatakan bahwa, Ibu adalah tiang negara. Kokoh atau hancurnya negara tersebut terletak pada wanitanya. Itu artinya ibu adalah pencetak umat berkualitas yang paling utama dan pertama. Ibu yang mendidik generasi penerus bangsa dan lingkungan terkecil dari seorang anak adalah keluarga dimana penanggung jawab pengasuhan mereka terletak pada seorang ibu.

Kalau begitu, para wanita..baik yang akan menikah, merencanakan menikah, atau yang masih ingin merintis karir. Kelak kita semua akan menjadi seorang ibu, baik cepat atau lambat. Lalu sudah siapkah kita? Sudah siap kah jasmani dan ruh kita? Bukan hanya itu saja, terutama sudah siapkah ILMU kita untuk menjadi seorang ibu? Jawablah dengan jujur teman, bunda, dan para wanita-wanita milik Allah. Karena kelak bukankah kita akan diminta pertanggung jawaban akan hal itu?

“Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya.” (HR Muttafaq ‘alaih)

PS: dilain kesempatan insyaAllah aghita akan berbagi kisah menarik lainnya tentang Bunda dan perjuangannya..semoga sekedar catatan ini sarat akan hikmah dan bermanfaat untuk pembaca=)

Comments (2) »

My 1st Snow White Cookies=)

Bismillahirrohmaanirrohim..

Beberapa waktu lalu di Bulan Romadhon, iseng-iseng belajar bikin Snow White Cookies aka Kue Putri Salju:p
Dengan modal kurang lebih 50ribu ternyata bisa bikin 4 toples kue. Melihat harga pasar, di toko2 kue ternyata kue jenis ini biasa dijual 30-40ribu per toples. Wah, ternyata untungnya banyak juga ya berbisnis kue seperti ini pantas saja mulai bermekaran para penjual kue-kue kering terutama saat mendekati Hari Raya Idul Fitri. Tapi kalo aku yang jelas masih bersenang-senang dengan pelajaran memasak episode kue kering, ingin menjadi profesional dulu baru berpikir bisnis..=)

berikut ku share hasil eksperimen pada episode ini..

Bahan:
1. Tepung terigu 3/4 kg
2. Mentega 1/2 kg
3. Roombutter 1 ons
4. Kacang kenari 1 ons
5. Gula halus 1 ons
6. Gula mint 1/4 kg
7. Telur 2 butir (1 butir hanya diambil kuningnya saja)
8. Pewarna kue pandan (bila ingin kue berwarna hijau)

Cara pembuatan:
1. Kocok mentega,roombutter, dan telur dengan menggunakan mixer. Sambil mengocok,masukkan gula halus sedikit demi sedikit.
2. Setelah adonan tercampur merata, masukkan tepung terigu, dan kacang kenari yang telah dihaluskan. Aduk menggunakan tangan hinggan adonan kalis dan dapat dicetak. Beri pewarna pandan secukupnya sesuai selera.
3. Cetak adonan dengan cetakan kue kering. Bentuk cetakan sesuai selera tetapi umumnya berbentuk bulan sabit. Tata adonan yang telah dicetak ke dalam loyang.
4. Panggang adonan yang telah dicetak ke dalam oven kurang lebih 10 menit.
5. Dinginkan kue yang telah matang kemudian taburi dengan gula mint.

*PS: untuk mempercepat kematangan adonan tanpa takut gosong, tepung terigu dapat disangrai terlebih dahulu sebelum digunakan*

Selamat mencoba =)

Leave a comment »

Just a quote

“Be an opener of doors for such as come after thee”

-Ralph Waldo Emerson-

Leave a comment »

Terima Kasih Allah, Surabaya telah mendewasakanku (A Tribute to Surabaya)

Bismillahirrohmaanirrohim..

Assalamu’alaikum, semoga rahmat Allah masih menaungi kita hingga kita tak berjejak di atas bumi ini. Amiin. Dua hari sudah aku angkat kaki dari kota itu, kota yang kini kurindukan teramat dalam, kota yang telah menggoreskan jejak dalam kehidupanku, kota yang meninggalkan amat banyak pembelajaran hidup, kota yang telah mendewasakanku, SURABAYA. Ya, sudah dua hari ini aku kembali ke kampung halamanku a.k.a rumah orang tuaku, sebuah kota yang tidak besar, Mojokerto. Tetapi dua hari ini juga aku masih juga merasa haru telah meninggalkan kota kenangan yang sekaligus menjadi saksi kelahiranku, Surabaya. Padahal dulu ketika masih indekost disana, setiap pulang ke Mojokerto aku selalu mengeluhkan betapa panas dan sumpeknya kota Surabaya itu. Selalu lebih bangga dengan kedamaian kotaku dibesarkan, Mojokerto. Walaupun jarak antara Surabaya-Mojokerto tidak lebih dari 50 km saja, tetapi suasana keduanya sangat berbeda. Baik dalam hal cuaca, hiruk-pikuk jantung kota, maupun kondisi pemukimannya. Yang aku tahu, saat aku masih bermukim di Surabaya karena harus melanjutkan jenjang pendidikan tinggi, aku merasa sangat lebih nyaman dan betah tinggal di kotaku sendiri, Mojokerto. Tetapi sekarang aku baru menyadari bahwa anggapanku salah, Subhanallah Allah telah menunjukkannya pada detik-detik sebelum kepulanganku ke Mojokerto malam itu. Tepatnya hari senin lalu, karena selasa pagi aku telah berencana untuk mangkat dari Surabaya, aku beranjak ke tempat tidur lebih awal, pukul 8.30 malam. Entah kenapa aku belum kunjung bisa tidur, dengan daya upaya memejamkan mata, sambil bolak-balik mencari posisi paling nyaman sekalipun tetap pikiranku masih tak mau ditidurkan. Padahal sudah beberapa jam lalu, aku komat-kamit membaca doa tidur dan ayat kursi tetap tidak berhasil, hingga beberapa kali aku longok jam di HP ku. Saat tak bisa tidur itulah, setiap memori akan kehidupanku di Surabaya seakan-akan diputarkan di otakku oleh Allah. Kenangan pahit dan manis, orang-orang yang sangat menyayangiku disana, teman-teman seperjuanganku, dan segala bentuk peristiwa yang meninggalkan berkeping hikmah. Tak terasa, air mataku menetes bersamaan dengan setiap kenangan yang melintas di kepalaku akan Surabaya. Yaa Rabb, maafkan aku yang masih kurang bersyukur menikmati perjalanan hidupku selama di Surabaya 4 tahun terakhir ini, padahal sejatinya Kau telah menitipkan begitu banyak pelajaran disana, kesedihan dan kebahagiaan yang silih berganti pelan-pelan mendewasakanku, membuat seorang Aghita lebih bijak mengarungi hidup ini.

Kilasan-kilasan rekaman perjalananku di Surabaya, diputar ulang di hadapanku. Teringat saat malam sebelum pergi meninggalkan kos tercinta, GM 16 Boarding House. Saat aku dengan agak terburu berpamitan kepada Bu Ndari (salah satu ibu kos), meminta diri sekaligus meminta maaf atas segala tindak tandukku yang kurang menyenangkan. Awalnya aku pikir sederhana saja, berpamitan, berterima kasih, meminta maaf, sudah. Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu, setelah menjabat tangan beliau entah kenapa beliau mengelus-elus pundakku berkali-kali dan aku melihat matanya berkaca-kaca menatapku. Jangan-jangan ibu ini menangis, pikirku dalam hati. Benar saja, sontak saja aku berkata “Ibu jangan nangis..”, sambil memeluknya. Dan pelukan itu, bukan justru membuat beliau diam tapi malah membuatnya makin terisak sambil berbisik sesuatu yang membuatku jadi ikut menangis. “Sudah ibuk ya?nanti saya ikut nangis..” (padahal jelas aku sudah keduluan nangis). Beberapa saat aku lepas pelukanku, sekali lagi berpamitan dan berterima kasih. Subhanallah, aku benar-benar merasa seperti anak yang akan meninggalkan ibunya. Bu Ndari memang sudah seperti bundaku sendiri selama di Surabaya walaupun kami jarang bertatap muka karena beliau tinggal berbeda gang dengan rumah kosku.

Tak sampai disitu, rekaman kejadian di GM 16 Boarding House yang telah membuatku sangat bersyukur telah bermukim disana selama di Surabaya. Teruntuk mereka:

  • Kamar #1, Mariza yang membuatku belajar arti kebersihan karena yang aku tahu dia adalah salah satu teman kosku yang paling rajin bersih-bersih di lantai 1 (GM 16 Boarding House ada 2 lantai).
  • Kamar #2 Dysti yang ramah, selalu menyapaku di kampus setiap ketemu dari kantin, depan hima, sampai plasa SI.
  • Kamar #3 Kiki yang cantik, yang telah mendahului kami dalam menyempurnakan separuh agama. Ya, temanku satu ini telah menikah 29 Juni lalu, barakallah ya ki untuk keluargamu..maaf tak bisa menyempatkan datang ke Madura karena deadline skripsi.
  • Kamar #4 Febri yang imut-imut. Walaupun awalnya aku merasa kurang nyaman dengan wajah dinginnya, tapi setelah kenal dekat Fe jauh lebih ramah dari yang aku kira. Terima kasih atas beberapa advice dan cerita pengalaman sidang akhirnya.
  • Kamar #5 Ocha yang manis, entah kenapa setiap kali melihat kamar teman-teman dari jurusan Despro aku selalu kagum dengan interiornya. Ocha ini salah satunya, dengan kamar yang tak begitu luas itu, aku benar-benar takjub dengan penataan interiornya hingga barang yang banyak pun tidak membuat kamar terkesan sempit. Bagaimana tidak, sebuah akuarium pun masuk di dalamnya, tetap aku lihat kamarnya nyaman sekali. Salut untukmu Ocha =)
  • Kamar #6 Candra yang tomboy, anak yang sangat spesial buatku. Tomboy, sangat aktif, humoris, dan kocak. Yang buat aku terheran-heran dan tidak menyangka ketika dia menangis saat menonton film 3 idiots. Wow, akhirnya sisi femininmu keluar juga, Can.
  • Kamar #7 Mbak Rifda, mami yang bijak. Mbak yang paling tua di kos, sangat menyenangkan bisa berbagi cerita dengannya. Entah kenapa selalu nyambung berbicara apa saja dengan mbak satu ini, seseorang yang punya bakat terpendam sama denganku, konsultan kejiwaan alias psikiater amatiran. Ya, tempat tumpahan curahan-curahan hati teman. It’ s always fun to be like us, Mbak Rif..Their uniquely stories can be a way to be more wise =)
  • Kamar # 8 Immash, yang alim. Adek satu ini, selalu aktif dalam kegiatan dakwah kampus. Salah satu penulis juga, saya sangat salut dengan tulisanmu sayang. Terus berkarya, jangan lupa tetangga yaah..;)
  • Kamar # 9 Tiara, yang pintar. Mutiara, begitu Lusy menyebutnya. Perumpamaan yang indah, seindah nama dan orangnya. Adek yang sedang merintis skripsi dan ingin lulus 3,5 tahun ini sekarang paling betah di kos-kosan dikala semua penghuni sedang libur.Sukses untuk TA nya sayang..
  • Kamar #11  Elza, yang lucu. Walaupun sekelebat saja aku mengenal gadis ini, aku selalu tertarik dengan senyum khasnya. Wajah-wajah orientalnya selalu membuatku teringat film-film Jepang.hehe
  • Kamar # 12 Kandy, yang ringan tangan. Adek satu ini membuatku belajar akan pentingnya mendahulukan kepentingan orang lain, yang aku tahu dia adalah orang yang sangat ringan tangan membantu orang lain. Aku belajar banyak darimu sayang, adek yang sangat istimewa untukku ever after.
  • Kamar # 13 Nuy, yang selalu up-to-date. Walaupun tergolong anak baru, tetapi aku salut Nuy yang mudah sekali akrab dengan seluruh penghuni kos. Aku salut untukmu yang selalu up-to-date berita terhangat di tanah air Nuy,hehe.
  • Kamar # 14 Rela, yang polos. Anak polos dari Madura yang entah kenapa selalu telat nyambung saat teman-teman membicarakan apapun di ruang keluarga kami aka depan TV. Tapi ternyata belakangan tahu, Rela adalah anak yang cerdas di kampusnya. Salut Bu Asdos!
  • Kamar #15 Winda, yang kalem. Anak satu ini baik sekali, kalem orangnya. Kadang-kadang kasihan melihatnya kerja keras mengatur jadwal piket kamar mandi dengan beberapa sebab.
  • Kamar #16 Lusy, yang keren. Walau terkesan agak tomboy tapi dara satu ini sangat rapi dan rajin. Senang bisa berbagi cerita denganmu soal interior design Lus, semoga benar nanti kamu bersedia men-desain-kan rumahku tentunya dengan harga miring.hihi..Hope u’ll be a great interior designer/interior consultant=)
  • Kamar # 17 Dita, yang gila bola. Khusus untuk adek kos satu ini, saya sangat salut akan wawasanmu tentang dunia pesepakbolaan. Penggila bola sejati hingga ketika aku masuk ke kamarnya, dari sprai, bedcover hingga gantungan kunci semua tentang tim bola jagoannya.
  • Kamar # 18 Mita, yang ceria. Mita, begitu panggilannya. Yang aku tahu, selalu ceria di depan semua orang. Cengengesan khas anak kecil yang selalu dirindukan banyak orang, penghibur diantara kerumunan pembicaraan. Tawa, canda, dan cerita adalah ciri khasnya ketika aku berada bersamanya. Seorang sanguinis sejati yang ingin membuat dunia ceria, walaupun ketika terjatuh dia tak kuasa menahannya sendiri. Seseorang yang belum mau dianggap menjadi wanita dewasa dan lebih nyaman disebut gadis remaja. Semoga setiap likumu menitipkan hikmah, belajarlah mandiri nak.Bunda akan sangat merindukan saat-saat bersamamu (memasak dan hunting buku)..u_u
  • Kamar #19 Dek Novi, yang pendiam. Tak banyak bicara, sejauh aku mengenalnya itulah kesanku. Tetapi ketika sudah akrab, dia cukup menyenangkan dan manis.
  • Kamar #20 Rihay, yang on fire. Bersemangat, berwawasan luas, dan banyak pengalaman. Itu yang aku kenal darinya, meski termasuk orang baru tetapi seperti aku sudah lama mengenalnya. Jujur aku banyak belajar darinya, wawasan dan keahliannya banyak membuatku belajar. Terima kasih sudah mau berbagi ilmu merajut bersamaku Hay =)

Itu adalah secuplik kisahku di GM 16 Boarding House. Kisah lain yang sarat akan hikmah adalah secarik kisahku bersama Laskar Taman Baca, anak-anak Gang Dolly yang kuajar dalam beberapa kesempatan. Tapi sejak disibukkan dengan skripsi hingga hari ini, aku sudah berpamitan pada mereka. Anak-anak itu selalu membuatku rindu, beberapa kali SMS dari mereka tersangkut di HP ku.

Adi : Kak gita kenapa gak ngajar lagi?

Riska : Kak gita gak ngajar?

Yaa Allah, ampuni aku. Adek-adekku sayang, maafkan kakak. Bukan maksud meninggalkan kalian, tapi ijinkanku menata kembali hati ini, bernafas untuk sebuah rencana yang lebih besar. Ijinkanku meminta diri untuk waktu yang belum bisa kupastikan, tapi bagiku kalian adalah berlian yang tersangkut di kubangan yang keruh. Putih diantara hitam, bintang yang bersinar di tengah gelap malam. Jangan pernah berhenti percaya, adek-adekku!

Bait panjang ceritaku di Kota Pahlawan, kuhabiskan bersama ITS tempatku menempa diri. Ya, bersama teman, sahabat, saudara atau bahkan lebih kekal dari itu. Di sebuah Jurusan Sistem Informasi, entah berapa banyak ilmu yang kupetik di tempat ini, berapa ton hikmah yang bermekaran bila semuanya memiliki massa dan berat, tak terhitung-infinite.

KMSI, sebuah ruang tempatku belajar berorganisasi. Walaupun tidak banyak kontribusi yang kuberikan, walaupun ada beberapa prinsip yang tidak kusepakati, KMSI adalah batu lompatanku me-manage kehidupanku sendiri. Ketika diamanahi menjadi bendahara kegiatan, aku jadi belajar bagaimana me-manage keuangan yang ternyata sangat tidak mudah. Aku teringat kelak akan menjadi manager Rumah Tangga dimana keuangan keluarga menjadi tanggung jawabku, sekali lagi syukur alhamdulillah atas kesempatan itu. Special untuk Anonims 06 yang paling setia menemani perjuanganku. Terima kasih teman. =)

KISI, selembar sajadah tempatku menunaikan hak-hak Tuhanku. Sebuah wadah yang menjadi titik balik kehidupan spiritualku. Walaupun awalnya diwarnai kecemasan, tetapi beberapa sahabat telah meyakinkan tekadku untuk mengubah jalan hidupku. Benar adanya, Barangsiapa menghijrahkan niat kepada Allah dan RasulNya, maka dia akan mendapatkan keduanya (Allah dan RasulNya) (HR Bukhari dan Muslim). Proses demi proses yang kujalani, setiap kali aku menambah ilmu akhiratku, semakin aku mengenal Allah. Dan ketika aku mengenalNya jauh lebih dekat, sedekat itulah kurasakan Allah bersamaku. Bersamaan dengan itu aku makin bersyukur dengan setiap metamorfosa kehidupan yang kulalui. Bersyukur bertemu dengan seorang gadis cilikku yang hebat dan cerdas, Fitrah Meilia Purnama. Beberapa kesempatan yang membuat kami begitu dekat, aku selalu kagum dengan kebolehannya dalam bidang design. Dan selalu terhibur dengan cerita dan rajukannya yang khas kekanak-kanakan, tetap aku sangat menyayanginya. Gadis yang sangat pintar, biarpun jarak memisahkan kita, tak selalu pun bertatap muka. Hati-hati ini telah menyatu dalam semaian do’a yang indah, phiet (begitu aku memanggilnya).

Diantara ratusan hikmah yang terselip sepanjang perjalananku di Surabaya ini, sebuah fenomena dimana sungguh kurasakan Allah menepati janjiNya. Tepatnya Ramadhan tahun lalu, yang tak lain adalah Ramadhan terakhirku bersama teman-teman GM 16 Boarding House. Untuk pertama kalinya aku ber-iktikaf di Masjid Agung, masjid paling populer dan paling besar di Surabaya. Seingatku Ramadhan tahun sebelumnya aku belum pernah ber-iktikaf di Masjid selama di Surabaya. Spesial dan berkesan, itulah yang kurasakan pasca iktikaf disana. Tetapi lepas Ramadhan, Lebaran tahun lalu Allah menghadiahkan sesuatu padaku. Allah bagai menjatuhkan sebuah bintang yang benderang tepat di hadapanku. Allah telah mengabulkan salah satu mimpi terbesarku. Beberapa hari aku sempat tidak percaya, mimpi yang selalu berseliweran diantara tumpukan catatanku kini berjarak tak sampai satu gapaian tangan. Kemudian aku meyakinkan diri bahwa Allah ingin aku menjadi saksi firmanNya :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebe­nar­­an.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

Allahu Akbar! Percaya atau tidak, sungguh memang aku pernah meminta mimpi itu padaNya. Dalam canda yang beberapa kali terlontar bersama mbak kosku beberapa tahun silam, sebuah mimpi yang sebenarnya tidak mudah dan mustahil untukku, mimpi yang sengaja kuminta dan kusematkan diantara rangkaian do’aku di Masjid Agung kala itu. Yaa Allah, jagalah apa yang telah Kau karuniakan kepadaku. Berkahilah apa yang telah Kau hadiahkan kepadaku, berkahilah di setiap usahaku menjaga hadiahMu itu. Tapi yang aku pelajari, sungguh mimpi itu bukan hadiah cuma-cuma dari Allah. Sebelum terkabulnya mimpi itu, aku masih ingat usaha yang jatuh bangun aku lakukan untuk memantaskan diri menerimanya. Ya, Allah telah menjawabnya, menjawab usahaku yang meski belum sempurna kurajut. Subhanallah.

Cerita ini kututup dengan mimpiku yang sedikit idealis, anak-anak Taman Baca itu telah membuatku menemukan duniaku. Sedikit atau banyak, aku ingin berkontribusi untuk mereka, anak-anak. Kini aku memimpikan menjadi seorang pengajar untuk mereka, untuk anak-anak dalam masa pembentukan karakter, untuk anak-anak yang masih dalam masa emas pertumbuhannya, untuk anak-anak yang kelak akan melukis prestasi tanah air, untuk anak-anak yang kelak akan membangun peradaban yang lebih baik, untuk anak-anak yang bertauhid dan kehadirannya dirindukan surga. Mereka yang aku harap dapat membuatku belajar jauh lebih bijak, membuatku belajar mendidik dengan hati, dan menari diantara imajinasi dan mimpi mereka yang luas tanpa batas. Aku sangat mencintaimu dengan segala keunikanmu. Semoga Allah memberkahi mimpiku ini.amiin =)

*Terima kasih Allah, Surabaya telah mendewasakanku. Jadikanlah setiap perjalananku disana berkah untukku dan sekitarku. Bila nanti Kau ijinkan, aku akan kembali dengan kontribusi untuk kota kelahiranku ini. Sebagai rasa terima kasihku, ijinkanku kelak menebarkan warna-warni potensi generasi Surabaya yang kucintai ini* Amiin

PS: “Friends come and go in our lives, but a few find places so deep in our heart that we know they will always be with us”

_diantara mekarnya rindu untukmu, Surabayaku_

Comments (15) »

Yang tersisa dari Tugas Akhir a.k.a Skripsi

bismillahirrohmaanirrohim..

Kurang lebih 3 pekan ini aku masih merasakan sisa-sisa euforia kelulusan terutama untuk teman-teman angkatan di jurusanku, Sistem Informasi ITS (baca : ANONIMS 06). Lebih dari separuh, ANONIMS telah melalui bersama perjalanan panjang dan berat dalam menyelesaikan skripsi. Ya, berperang dalam medan yang berbeda tetapi dengan tujuan sama aku menyebutnya. Ketika kami sama-sama merasakan dinginnya hawa ruang pembantaian (baca: ruang sidang). But, overall..alhamdulillah,segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Aku bersyukur mendapat giliran maju di minggu pertama, sehingga aura-aura kecemasan itu tak begitu nampak di sekitarku. Aku masih ingat beberapa bulan yang lalu, ketika mulai terengah meggeliat di tengah penyelesaian skripsi ini..aku merasakan bahwa pertolongan Allah begitu dekat dan hebat. Jargon-jargon penyemangat pun mulai kutegakkan sepanjang tepian jalan ini..mulai “Innallaha Ma ana”, “Man Jadda wa Jada” hingga “Inna Ma’al ‘Usri yusro”. Ternyata aku rasakan saat itu, jargon itu sangat ampuh membakar motivasiku. Ya, ketika tak seorang pun dapat membantuku..Dia, Allah Yang Maha Hebat mengirimkan sejuta inspirasi dan motivasi. Subhanallah.

Tak terungkapkan perasaan yang membuncah ketika segala tetek bengek urusan kelulusan telah kurampungkan..aku teringat mereka-mereka yang ikut berkontribusi dalam proses penyelesaian skripsiku, walau cuma ungkapan terima kasih ijinkan aku menyampaikan seutuh hati dalam do’a. Bilangan hadiah, ucapan terima kasih yang manis, mungkin tak cukup untuk kalian.biarlah aku menyematkannya dalam do’a, yang hanya Allah Ta’ala saja yang sanggup membalas kebaikan sesuai dengan porsi dan kebutuhannya.

Sekarang beranjak ke planning pasca kelulusan, berangkat dari gantt-chart yang kususun beberapa waktu lalu dalam sebuah tugas kuliah. Ada beberapa mimpi yang ingin kucapai, sedikit idealis kata bundaku. Tapi bukankah itu yang tersisa dari seorang mahasiswa?=) Suatu saat akan kubagi disini, tetapi tidak sekarang. Biarkan menjadi rahasia dulu, ketika satu per satu kartu mimpi terbuka yang menandakan mimpi itu telah tergapai, segera kugoreskan ceritanya. Yaa Allah, mudahkanlah sisa usahaku, jalan menggapai ridhoMu..amiin =)

*ditulis di sebuah ruangan biru, kamar baruku yang berhasil kumerdekakan setelah dikudeta oleh adik laki-lakiku*

Comments (3) »